Kamis, 31 Maret 2011

Botox untuk Awet Muda


Botox adalah racun hasil mikroba Clostridium botulinum, yang biasanya ditemukan pada makanan kaleng yang sudah rusak. Pada prinsipnya , botox dapat melumpuhkan system penyampaian pesan di dalam tubuh sehingga menghalangi kontraksi oto. Racun ini dapat melumpuhkan bahakan mematikan. Namun, pada dosis yang sangat rendah, botox dapat dipakai mengendurkan otot yang tegang.
            Relaksasi otot juga membantu menghilangkan keriput, terutama di wajah sehingga botox pun laris sebagai obat awet muda. Tahun 1989,FDA menyetujui terapi botox. Jika di injeksikan ke otot yang sedang berkontraksi, botox akan terkait pada ujung neuromuscular dan menggangu pelepasan asetilkolin sehingga menghambat kontraksi otot.
            Dalam dunia kecantikan, botox digunakan untuk menhilangkan keriput,disudut mata, diantara alis, dan dahi. Botox juga dapat menghilangkan lipatan-lipatan leher. Bahkan racun ini dapat digunakan untuk mencegah produksi keringat yang berlebihan.
            Aplikasi botox dalam medis juga tidak kalah banyak. Penderita stroke dengan gangguan motorik dapat diatasi dengan terapi botox. Botox juga digunakan untuk terapi cerebral palsy (CP) dan menghilangkan sakit kepala seperti migraine. Botox yang diinjeksi di dahi tidak hanya merelaksasi otot, tetapi di duga juga menghambat pembebasan neurotransmiter yang berhubungan dengan rasa sakit.
            Efek botox bergantung pada dosis dan bersifat temporer. Sel saraf dapat balik kembali menghasilkan asetilkolin setelah tiga bulan. Terapi botox biasanya berlangsung 10 menit sampai 15 menit. FDA menganjurkan injeksi botox tidak lebih dari selang tiga bulan dengan dosis efektif yang paling rendah.
            Terapi botox harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan terkontrol karena kelalaian dapat menyebabkan difusi botox dan berdampak fatal. Efek samping yang dapat terjadi adalah sakit kelapa, infeksi saluran pernapasan, dan gejala influenza sebagai reaksi alergi. Ada juga kemungkinan terbentuknya antibody terhadap botox sehingga pasien kebal pada terapi berikutnya .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar